Saya tidak mau cium kodok

Kalau kita baca cerita anak2 dari negri lain, ada sebuah kisah tentang seorang putri yang mencium kodok, dan kodoknya berubah menjadi pangeran. Tetapi disini lain. Kodok yang dimaksud dalam demonstrasi dari sekar (serikat karyawan) PT. telkom adalah Mr. abdul rizal bakrie.

Sekar menolak Flexi di merger dengan bakrie telkom dengan berbagai alasan:

  1. Bakrie bukan perusahaan yang menunjukkan itikad baik. sekar beragumentasi bahwa dalam bencana lapindo, bakrie beritikad tidak baik, maka itu abdul rizal bakrie di umpamakan sebagai kodok
  2. Menurut Sekar, adanya indikasi bahwa nilai flexi sengaja di murahkan, untuk mencuri aset negara.

 

Lalu kenapa sih sepertinya telkom dan juga esia ingin banget merger. Berikut ini adalah alasannya:

  1. Esia Telkom dan juga Telkom Flexi bukanlah perusahaan yang profitable. Kedua perusahaan ini berdarah2 dalam keuangan.
  2. Rata2 pengguna CDMA juga memiliki GSM, dan CDMA hanya dipakai sebagai telpon murah, sehingga operator tidak untung.
  3. Sebagai tambahan, Smart, Fren & Starone juga memperlihatkan cash flow yang sama.
    • Starone tidak lagi di urus oleh indosat, karena CDMA kurang peminatnya di Indonesia
    • Fren sampai bangkrut total, dan di jual ke Smart. saking parahnya Fren utang ke PT. Tower bersama & penyedia peralatan BTS mereka, sampai kalau dijual sekalipun, Fren tidak dapat bayar utangnya.
    • Smart, juga kebingungan. Mencoba memasarkan blackbery CDMA, tapi tidak ada peminatnya, dikarenakan CDMA tidak lazim. Tidak dapat dibawa keluar negri. Sudah mahal tidak lebih baik.

Nah lalu, apakah artinya merger esia/flexi ini:

  • Bagi Esia & Flexi, bagus di short term, karena ketika merger, dan mereka melakukan layoff. berarti bayar gaji pegawai berkurang, tetapi pemasukan tetap…. dengan asumsi pelanggan flexi tidak ngabur takut kodok.
  • Bagi pengguna CDMA, berarti CDMA menjadi semakin kurang menarik, karena tinggal 2 pemain doank. yaitu: smart-fren & esia-flexi.
  • Akan berakibat orang makin takut ke CDMA, karena kalau esia-flexi harga naik, cuma bisa ganti kartu ke smart-fren, dan sebaliknya.
  • GSM akan semakin merajarela, karena dengan membeli handphone GSM, berarti banyak pilihan.

5 Responses to Saya tidak mau cium kodok

  1. adit38 mengatakan:

    saya pake 4 gsm, ga pake cdma. CDMA mahal di biaya hidupnya. Coba 5rb aktif sebulan, br deh mau pake cdma.

    • tariftelpon mengatakan:

      tul!!!

      CDMA keliatannya murah, tapi makin lama makin mahal.

      sebagai contoh kalo telpon SLJJ non-operator
      misalnya dari Flexi telpon ke telpon rumah di kota lain, atau dari esia telpon ke hp nomor kota lain… liat deh tarifnya…. MAHAL banget… pulsa 10,000 cuma bisa omong 2 menitan. sedangkan kalo GSM semisal axis, pulsa 10,000 bisa 14 menitan.

  2. liat2aja mengatakan:

    keunggulan Flexi-Esia skrg cuma telpon PSTN lokal yg lebih murah dan ditelpon dari PSTN lokal juga lebih murah. Di luar itu sudah bisa dilawan GSM semua…

  3. tariftelpon mengatakan:

    Konsep utama keunggulan CDMA emang pada murahnya tarif lokal. Tapi pada kenyataannya, hampir tidak ada artinya, karena pelanggan fix line telkom tinggal 6juta nomor saja. Dan nomor2 itu kebanyakan nomor korporate, dimana 1 pelanggan bisa mencapai 10-20 nomor, seperti contoh misalnya hotel, atau customer service dari bank. Sedangkan rumahan sudah banyak yang pulangin nomor telpon, dan andaikata ada nomor rumah sekalipun. Pastilah sang empunya rumah juga memiliki handphone. Merajarelanya GSM telah membuat CDMA nilainya jadi berkurang.

    Sekedar informasi saja. Telkomsel memiliki 120juta nomor. Flexi 14juta nomor. Esia 8juta nomor. Fix line HANYA 6juta nomor. Dan kebanyakan orang dengan rata2 income rendah sudah tidak mau pake fix line telkom lagi karena bayar abodemen. Sudah bayar abodemen masih harus bayar pulsa kalau mau bicara. Kalau dibeli voucher prabayar lebih menguntungkan.

    Pada orang dengan income tinggi posisi CDMA juga tidak lebih baik. Fax sudah tergantikan oleh email. Sehingga keperluan akan line telpon untuk FAX sudah semakin jarang. Bila orang dengan income tinggi, bukan hal jarang satu orang lebih dari 1nomor. Sehingga membuat keunggulan CDMA sekarang hanya sekedar kata2.

    Hal2 ini yang menjadikan lingkaran setan CDMA. Yaitu, karena hanya sebagai nomor pendamping, orang tidak mau beli handset CDMA yang canggih/mahal. Karena tidak ada yang mau beli handset CDMA yang canggih/mahal, manufacture tidak memasukan type CDMA mahal ke Indonesia, karena tidak ada handset mahal/canggih, orang tidak memakai CDMA sebagai convergence device (convergence device adalah alat yang selalu dipakai untuk segalanya, misalkan denger lagu, foto, browsing, sms, email. Convergence device artinya alat yang bisa segalanya). Karena tidak dipakai sebagai convergence device dan hanya dipakai sebagai pendamping, maka itu keluar type baru pun orang ngak ganti hpnya. Ganti hanya kalau rusak. Karena itu CDMA kurang laku, dan pilihannya jadi ngak banyak, dan makin ngak canggih, dan karena hp CDMA makin ngak canggih, orang makin ngak mau invest macam2. Misalnya pada GSM orang coba ring back tone, sms premium, dll. Pada CDMA hal2 semacam ini minim. Yang akibatnya operator CDMA makin tidak bisa mendapatkan penghasilan yang optimal.

    Sebagai catatan, operator CDMA di Indonesia semuanya rugi, operator GSM sebagian besar untung.

  4. swadaya mengatakan:

    CDMA millik rakyat. telkom kan punya BUMN (badan usaha milik negara).kalo untung negara juga maju. GSM punya perorangan kadang sahamnya orang bule. keuntungan diraup dirampas dan diambil oleh orang bule.
    hidup CDMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: